Tampilkan postingan dengan label Rujak Cingur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rujak Cingur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, November 27, 2010

Soto Ambengan Jatijajar: Rujak Cingur Cak Di

MURAHNYA KENIKMATAN CONGOR SAPI
dengan bumbu rujak dan DIGUYUR SEDAPNYA SOTO AMBENGAN


Jatijajar - kulinerkuliner.com
Berjalan-jalan hunting lokasi buat seorang kolega kuliner saya, yakni Cak Tio sang pemilik merk dagang usaha Bakso Malang Cak Tio yang sudah memiliki  cabang di Kota Bekasi dan Ciputat. Lokasi pencarian adalah Cimanggis. Setelah setuju dan siap buka kerjasama dengan kulinerkuliner.com untuk buka warung makan bersama di lokasi tersebut, kami pun meluncur ke daerah Jatijajar searah ke Cibinong dari Jalan Raya Bogor kawasan Depok itu.


Mampir ke salah satu famili Cak Tio, yakni Cak Di yang juga berdagang Bakso Malang dan aneka sajian khas Jawa Timuran. Salah satu sajian favorit pelanggannya adalah Soto Ambengan dan Rujak moncong (congor) sapi yang super lezat. Mendengar ada menu masakan rujak cingur, saya langsung saja setuju untuk diajak Cak Tio ke tempat Cak Di. Tanpa ba' bu' lagi saya setuju saja ikut mobil Kijang Cak Tio. Seumur hidup saya baru 2 x makan rujak Cingur yang sensasional dan fenomenal itu dan berarti ini adalah kali ke 3. "Kasihan banget deh lo! jarang makan rujak cingur..." ledek Cak Tio. Kami pun tertawa.

Cak Di mempunya 2 warung sederhana, yang pertama adalah warung bakso Malang yang berlokasi tak jauh dari warung utamanya, Soto Ambengan. Anehnya lagi adalah, di sepanjang jalur jalan raya Bogor kawasan Jatijajar itu ada 2 lagi Bakso Malang. Satu bakso Bakar Malang, dan satu lagi Bakso Malang Prasasti. Hahahaha... dasar orang Jawa Timur, meski saling berdempetan tapi gak saling ontog-ontogan yah?
Bagi kuliner-kuliner.com mungkin adalah kesempatan yang ketiga kalinya menikmati kekenyalan moncong alias congoran sapi yang dipadu pedasnya rujak mangga, timun, taoge plus bumbu petis dan kacang serta potongan ketupat yang luar biasa mengenyangkan. Apalagi setelah makan rujak cingur yang kesohor dengan rasanya yang segar dan klenyes-klenyes unik ini, saya minum segelas air mineral dingin, segelas kopi susu dan es jeruk.... hmmmmm ... MasyaAllooooooohhh muantabs buener...!

Meski mendengarkan Cak Tio saling ngobrol dalam bahasa Jawa Timuran ala arek Malang hingga terkantuk-kantuk, tapi perjalanan saya kali sangat puas dengan sajian khusus buatan istri Cak Di yang bukan saja melegakan tapi menambah penuh makanan unik perjalanan kuliner "perut gembel" saya. Hihihihihi... selalu saja makanan gratis dan dapat liputan berisi.

Kelezatan bumbu petis plus pedasnya cabe rawit tidak membuat mulut saya kapok menyuap setiap potongan cingur dan ketupat ke dalam perut saya. Mengunyah dan mengunyah menjadi kenikmatan tersendiri buat geligi dan lidah saya berkolaborasi. Hmmmm... krenyes-krenyes dan kriuk! Ya semakin asyik saja rujak cingur itu saya campur dengan krupuk putih yang gurih dan garing. Menikmati rujak cingur memang jangan pake krupuk melempem, jadi kurang sensasi tabrakan rasanya antara kenyalnya moncong sapi dengan empuknya ketupat dan tahu serta segarnya timun serta mangga dicampur kriuk renyahn ya krupuk kulit.... Wow... serasa makanan para pejabat euy!

Anda tertarik dengan rujak cingur asli Malang ala Cak Di, silakan saja hubungi warung makan Bakso Malang dan Soto Ambengan Cak Di di pertigaan Jatijajar, jalan Raya Bogor.Harganya pun relatif murah serta terjangkau lah buat kantong Anda (itu pasti). Atau Anda bisa juga memesan langsung ke telpon (021) 9346.1965 dan langsung pesan dengan Cak Di.

Sabtu, Januari 23, 2010

WARUNG EMAK: Khas Jawa Timur dan Betawi di Jl. Pramuka Jakarta

Sop Ranjau nan Memikat alias Sop Ceker Ala Jawa Timur
Soto Ayam, Soto Daging, Bebek Goreng, Ayam Goreng, Pecel Lele, Gado-Gado, Rujak Cingur, Nasi Uduk, Tahu Tempe

Jakarta, kelanakuliner.com
Warung Emak, dari namanya saja sudah mengundang pengertian warung ini bisa jadi milik orang Betawi atau Jawa (nggak juga seh, bisa jadi dari suku mana aja, nggak jadi ukuran kan?). Tapi melihat menunya yang luar biasa laku, yakni Sop Ranjau alias Sop Ceker. Lalu mengapa namanya jadi Sop Ranjau, padahal isinya adalah potongan ceker yang rasanya lumayan nikmat (maunya sih berselera hotel, harganya kelas motel).

Apa istilah ranjau bisa disambungin dengan ranjau bom yang terkadang selalu dekat dengan kaki? Bisa jadi kali! Kota Surabaya kan dulu terkenal sebagai  Kota Pahlawan dan pada masa perang tahun 45 dulu banyak sekali ranjau yang dipasang tentara Belanda dan Sekutu. Karena ranjau itu sudah banyak memakan korban kaki-kaki, maka bila mereka menyebut ceker (kaki ayam) maka terbayang dengan ranjau? Hehehe kali aja bener asumsi saya ini.

Tapi menurut pengakuan ibu Safuroh, sang pemilik Warung Emak, istilah Ranjau adalah bahasa halusnya orang Jawa Timur untuk menyebut ceker atau kaki ayam. "Itulah sebabnya saya menggunakan istilah Sop Ranjau untuk Sop Ceker saya ini," jelas Safuroh yang akrab dipanggil Emak ini.

Menurut Emak, Sop Cekernya ini porsinya lebih banyak dari kebanyakan sop ceker yang mungkin ada di jabodetabek. Di Jawa Timur sendiri, sop ceker memang tidak terlalu banyak dijumpai. Namun bumbu dan menunya memang asli khas Jawa Timuran, jelasnya kepada kelanakuliner.com

Biar Emak asli keturunan Jawa Timur, tepatnya di Surabaya, tapi ia juga menyajikan menu khas Betawi seperti Nasi Uduk, Pecel Ayam, Pecel Lele dan Pecel Bebek. Semuanya mempunyai harga yang sangat terjangkau. Biarpun murah tapi para pelanggannya kebanyakan adalah orang yang bermobil, "Bahkan ada beberapa pejabat daerah yang menjadi langganan tetapnya setiap minggu. Termasuk tamu hotel Sentral yang sering dipromosikan oleh pegawai hotel untuk belanja di Warung Emak.

Anda tertarik ingin memesan via telpon masakan khas Sop Ranjaunya yang luar biasa nikmat itu? Hubungi saja telp (021)9314.4307 langsung dengan anaknya, bila ingin menikmati langsung, Anda bisa menuju jalan Pramuka Raya seberang Hotel Sentral tepat di samping Is Plaza, di kawasan Jakarta Timur.

SidikRizal-dobeldobel.com

Selasa, Januari 05, 2010

WARUNG EMAK: Khas Jawa Timur dan Betawi di Jl. Pramuka Jakarta

Sop Ranjau nan Memikat alias Sop Ceker Ala Jawa Timur
Soto Ayam, Soto Daging, Bebek Goreng, Ayam Goreng, Pecel Lele, Gado-Gado, Rujak Cingur, Nasi Uduk, Tahu Tempe


Jakarta, kelanakuliner.com
Warung Emak, dari namanya saja sudah mengundang pengertian warung ini bisa jadi milik orang Betawi atau Jawa (nggak juga seh, bisa jadi dari suku mana aja, nggak jadi ukuran kan?). Tapi melihat menunya yang luar biasa laku, yakni Sop Ranjau alias Sop Ceker. Lalu mengapa namanya jadi Sop Ranjau, padahal isinya adalah potongan ceker yang rasanya lumayan nikmat (maunya sih berselera hotel, harganya kelas motel).


Apa istilah ranjau bisa disambungin dengan ranjau bom yang terkadang selalu dekat dengan kaki? Bisa jadi kali! Kota Surabaya kan dulu terkenal sebagai  Kota Pahlawan dan pada masa perang tahun 45 dulu banyak sekali ranjau yang dipasang tentara Belanda dan Sekutu. Karena ranjau itu sudah banyak memakan korban kaki-kaki, maka bila mereka menyebut ceker (kaki ayam) maka terbayang dengan ranjau? Hehehe kali aja bener asumsi saya ini.


Tapi menurut pengakuan ibu Safuroh, sang pemilik Warung Emak, istilah Ranjau adalah bahasa halusnya orang Jawa Timur untuk menyebut ceker atau kaki ayam. "Itulah sebabnya saya menggunakan istilah Sop Ranjau untuk Sop Ceker saya ini," jelas Safuroh yang akrab dipanggil Emak ini.

Menurut Emak, Sop Cekernya ini porsinya lebih banyak dari kebanyakan sop ceker yang mungkin ada di jabodetabek. Di Jawa Timur sendiri, sop ceker memang tidak terlalu banyak dijumpai. Namun bumbu dan menunya memang asli khas Jawa Timuran, jelasnya kepada kelanakuliner.com


Biar Emak asli keturunan Jawa Timur, tepatnya di Surabaya, tapi ia juga menyajikan menu khas Betawi seperti Nasi Uduk, Pecel Ayam, Pecel Lele dan Pecel Bebek. Semuanya mempunyai harga yang sangat terjangkau. Biarpun murah tapi para pelanggannya kebanyakan adalah orang yang bermobil, "Bahkan ada beberapa pejabat daerah yang menjadi langganan tetapnya setiap minggu. Termasuk tamu hotel Sentral yang sering dipromosikan oleh pegawai hotel untuk belanja di Warung Emak.


Anda tertarik ingin memesan via telpon masakan khas Sop Ranjaunya yang luar biasa nikmat itu? Hubungi saja telp (021)9314.4307 langsung dengan anaknya, bila ingin menikmati langsung, Anda bisa menuju jalan Pramuka Raya seberang Hotel Sentral tepat di samping Is Plaza, di kawasan Jakarta Timur.

SidikRizal-dobeldobel.com

Jumat, Desember 18, 2009

Pecel Madiun BP, Rujak Cingur Khas Jatim di Kota Bekasi

Menu Serba Hitam Khas Jawa Timur yang Menggugah Selera


Bekasi, kelanakuliner.com
Tak sengaja saya menyambangi sebuah warung makan Pecel Madiun yang ada di Alun-alun Kota Bekasi, samping Bakso Malang Cak Tio. Ternyata Warung Pecel Madiun BP ini pernah ditulis oleh sahabat saya Dian PP, langsung dari sang narasumbernya Budi Purwanto di warung utamanya di dekat exit Pintu Tol Bekasi Timur.

Saya sendiri memang kesulitan mendapatkan makanan khas Jawa Timuran yang selalu berwarna hitam ini. Mulai dari Rawonnya atau yang sering saya sebut sebagai Black Soup ala Eastern Java. Bila pembuatan Rawon (ada yang iga, jeroan, atau daging sapi) biasanya menggunakan kluwek (pucung dalam bahasa Betawi) atau Keluak/Keluwak, atau Buah Kepayang dan dalam bahasa asingnya dikenal dengan nama Indonesian Black Nut, atau Pangium Edule Nut memang memberikan aroma khas dan rasa tersendiri bagi masakan berbahan daging sapi ini. Kemudian sajian lainnya yang juga berwarna hitam namun lezat dan nikmat, yakni Rujak Cingur. Kala yang pertama tadi, si sop hitam diwarnai dengan kluwek, maka, Rujak Cingur berwarna hitam karena bahan bumbu petis udangnya yang tak bisa digantikan dengan Petis udang dari daerah lainnya, demikian ungkap Ibu Diah, istri sang pemilik Pecel madiun "BP", Budi Purnomo kepada kelanakuliner.com


"Entah mengapa makanan khas Jawa Timur banyak sekali yang bernuansa warna hitam, ucap wanita yang berprofesi sebagai pengamat ekonomi dan sering bepergian ke luar negeri ini. Saya sendiri sebenarnya juga heran dengan masakan khas Jawa Timur. Mengapa selalu berwarna gelap dan hitam pekat? APakah mungkin karena ciri khas daerah Jawa Timuran yang identik dengan pakaiannya yang berwarna hitam? Ingat kan pakaian para penari dan seniman Reog Ponorogo? Atau para warok-warok (para jagoan jaman dulu) yang suka sekali berpakaian hitam dengan kaos dalaman belang-belang merah-putih. (Hualah! Apa masalahnya?)

Terlepas dari nuansa kegelapan (baca: hitam) pada setiap makanan khas Jawa Timuran, tapi tak ada satupun yang tidak lezat untuk dinikmati. Justru itu, Rujak Cingur yang berbumbu petis hitam nan pekat adalah kombinasi antara rasa klenyir-klenyir moncong (congor atau cingur atau hidung dan mulut sapi) ini dengan gurihnya Petis udang Surabaya, dan asamnya buah-buahan campuran (itulah sebabnya disebut rujak) dan ditambah bumbu-bumbu lainnya. Hmmm pasti lebih nikmat bila dinikmati pada siang hari bersama minuman dingin khas Jawa Timuran (apaan tuh minuman khasnya?).

Yang jelas bila Anda tertarik menikmati Rujak Cingur dan Pecel Madiun Portable (saya lebih suka menyebut Bumbu Pecel Madiun Portable, karena kemudahannya untuk dibawa kemana-mana dalam sebuah kemasan kotak yang kompak ini). Perlu juga Anda ketahui Paket Kotak Bumbu Pecel madiun merk "BP" ini telah melanglang buana ke manca negara hingga Amerika dan Eropa. (kadang saya berfikir, alangkah baiknya kalau saya adalah sebuah bumbu pecel paket.... sudah bisa ke luar negeri dalam sekejap.... hehehehe, saya sendiri belum pernah ke laur negeri, kecuali keliling Indonesia). Oh iya hampir lupa. bila Anda benar-benar tertarik mencoba Rujak Cingur khas Jawa Timuran, silahkan reservasi di nomor berikut ini 0812.803.6117 atau (021) 703.29.768 dengan Ibu Diah. Atau kunjungi Warung Pecel Madiun dekat Pintu Tol Bekasi Timur sambil belokan ke arah kanan. Dijamin Anda tak kan kecewa dan tak perlu harus memesan ke Jawa Timur, karena semuanya asli Jawa Timuran di warung ini.

Sidik Rizal - kelanakuliner.com




Dan berikut ini kutipan tulisan sobat saya mas Dian PP yang pernah diterbitkan pada edisi sebelumnya:

Ada Kulit Jeruk di Pecel Madiun

Bekasi, Tol Timur Bekasi, kelanakuliner.com.
Eksplorasi pedas kelanakuliner kali ini mencoba menjamah sisi tradisional negeri seribu pulau ini. Beberapa tulisan tentang menu sarapan pilihan sebagian besar warga Jawa Timur, pecel, akan coba diulas dalam melalui blog ini. Penjelajahan dimulai dari satu tempat yang yang dikenal sebagai asal muasalnya makanan ini, walaupun dalam prakteknya, sudah banyak "penyimpangan" yang terjadi (makanya baca sampai tuntas dulu agar tahu). Pecel, rasanya tidak akan mudah dilepaskan dari kata Madiun. Maka penjelajahan kali ini menuju langsung ke orang Madiun yang tinggal di Bekasi untuk mencari jawaban pasti atas keberadaan pecel Madiun ini.

Pecel Madiun, menurut Budi Purwanto, memiliki ciri khas penggunaan turi, kecambah pendek, dan sambel pecel. Selain itu, ciri khas visual yang bisa ditemukan adalah pada cara penyajian yang selalu menggunakan daun pisang, dan cara menuangkan sambel pada racikan nasi dan kulupan. Nasi pecel Madiun, mengutamakan kulupan, dan hanya mensyaratkan nasi. "Jadi, pecel Madiun akan mudah dikenali dari penyajiannya yang menggunakan daun pisang secara berlebih, nasi yang hanya secukupnya, kulupan lebih banyak, serundeng, kering tempe, cacahan mentimun, sambel pecel, dengan lauk peyek, krupuk puli (cap walet), tempe dan tahu. Adapun kulupannya juga menyisakan hal yang khas, yakni dengan kehadiran daun kemangi. Sementara untuk materi kulupannya, menggunakan kacang panjang, daun singkong, daun pepaya, yang diolah dengan teknik tertentu. Daun singkong dan pepaya direbus secara bersamaan sampai matang, ditiriskan sebentar, kemudian langsung disiram dengan air es, agar warnanya menjadi hijau segar. Untuk menjaga kualitasnya, pak Budi bahkan sampai rela membuat kecambah sendiri, dan juga menyediakan ladang pisang, untuk mengoptimalkan pasokan daun untuk pecelnya.

Sementara pengolahan sambel BP juga menarik untuk disimak. Rupanya dari pemilihan bahan, pak Budi mengutamakan kwalitas. Sehingga tak mengherankan jika kacang harus didatangkan dari Tuban, asem jawa dan daun jeruk dikirim dari Madiun, sementara gula merah nya dibeli langsung ke tasikmalaya. Kacang diolah dengan metode sangrai, setelah sebelumnya dipilih kualitas yag terbaiknya. Selanjutnya setelah matang, kacang diuyek agar kulit terpisah dari biji kacang dan terbelah, lantas ditapeni, agar kulit tidak bercampur dengan biji. Selanjutnya, biji kecil yang ada di dalam kacang, dibuang. "Ini bisa membuat rasa sambel menjadi sedikit pait" terang pak budi sambil menunjukkan bagian kacang tersebut kepada kelanakuliner. Kacang selanjutnya ditumbuk, dicampur dengan bumbu2, dan ditambah dengan kulit jeruk yang ditumbuk. Yang disebut terakhir inilah yang menjadi ciri khas pembeda sambel pecel Madiun dari sambel pecel di daerah lain. Pengusaha pecel tiga generasi ini, mengaku jikalau pasokan kacang tubannya mandheg, dia memilih untuk menghentikan dagangan untuk sementara, sampai pasokan kacang pulih kembali. "Kacang Tuban itu, kecil, tapi menthes mas" jelas pak Budi. Tanpa kacang tuban, hasil sambelnya pasti terasa lain. Berkat kontrol kualitas yang ketat, sambel pecel besutan pak Budi telah merambah benua kangguru, dan beberapa negara di Asia.

Menariknya lagi, untuk menyediakan lauk peyek kacang yang benar-benar khas Madiun, didatangkanlah langsung dari Madiun, pembuat asli peyek kacang Madiun. Kacang yang dipakai masih tetap kacang tuban, namun bedanya, tidak ada perlakuan khas, dimana kacang cukup dibelah menjadi dua, dan dicampurkan ke adonan tepung dan tak lupa, rajangan daun jeruk. Peyek hasil gorengan pun juga tak lepas dari qualiti kontrol. "Dua blek besar peyek pernah saya suruh bagi-bagikan saja, karena rasanya yang tidak pas menurut saya" kenang pak Budi.

Penyaji pecel Madiun ternyata tidak selamanya adalah orang Madiun. "Orang jogja bisa saja jual pecel" Mana ada pecel jogja, adanya ya pecelMadiun. Tapi gestuur dan cara penyajian, sudah membuat kita bisa membedakan ini pecel Madiun asli, dan yang itu pecel Madiun made ini semarang. Sambel pecel semarang memiliki citarasa kencur yang cukup kuat. Sementara Sambel pecel Jawa Timur, cenderung menguatkan daun jeruk nipis. Di sinilah "penyimpangan" itu terjadi, ketika tagline yang diusung adalah pecel Madiun, tapi karena yang menjualnya bukanlah orang Madiun, maka terjadilah. Pecel Madiun disajikan dengan daun pisang yang berlimpah, sementara nasinya hanya nyempil di pojok, dengan kulupan yang lebih banyak, kemudian disiram dengan sambel kacang secara nyepret.



Disarikan dari hasil perbincangan dengan Pak Budi Purwanto, pemilik Pecel Madiun "BP" (021)7032.9768. Ditulis oleh Dian Purnama Putra, untuk kelanakuliner.co.cc

DELIVERY SERVICE : (021)30565629 - HOTLINE: (021)606.36235 - 081385.386.583


Waroeng d'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]