Tampilkan postingan dengan label Lontong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lontong. Tampilkan semua postingan

Minggu, Agustus 02, 2009

Lontong Cap Go Meh: Depan Giant Jatiasih Bekasi

Nostalgia Makanan Khas Jawa Nuansa Oriental


Bekasi, kelanakuliner.com
Dunia ternyata memang sempit, begitu rasanya kalau kita berjalan sudah keliling kemana-mana namun akhirnya kita bertemu dengan orang-orang yang ternyata kita kenal juga dengan salah satu keluarga orang yang pernah dekat dengan kita, sekalipun ada yang berpendapat, "Dunia Tak Selebar Daun Kelor".

Tak lama setelah gue berkunjung dari tempat Pendekar Gurame, Komsen Resto Akuarium dan Warung Kuliner, gue ngegeber motor butut tua gue pulang lewat pertigaan tol Jatiasih. Sebelumnya juga udah buat janji ketemu dengan satu kolega, pengusaha Sate Ponorogo yang lokasi rumah makannya ada tepat di depan Giant Jatiasih. Kebetulan dia gak ada di tempat, tapi gue diizinin ngambil foto keadaan rumah makannya. Buat gue gak ada masalah, hitung-hitung nabung pekerjaan dan biar gak repot di besok hari.

Tapi siapa sangka saat lihat di sampingnya ada tempat makan dengan tulisan putih berlatar banner hitam "Lontong Cap Go Meh" bikin gue jadi penasaran. Mang seh... selama keliling Kota Bekasi dan Kabupaten belum ada tuh yang namanya Lontong Cap Go Meh, tapi kayaknya di Cikarang ada, tapi lupa syairnya tuh, cuma ingat kuncinya! Eh sorry maksud gue lupa tempatnya.

Iseng-iseng nyobain mampir dan seperti biasa dengan modal kartu nama dan stiker dobeldobel.com, gue masuk kali aja mudah-mudahan ketemu sama sang pemilik, biar bisa langsung wawancara, maklum lah mumpung hari Minggu. Mulanya hanya ada satu pengunjung yang duduk di dekat pintu masuk, karena cuma satu (gue nggak takut, kalo seribu gue ngeri) yang ada, ya udah gue langsung aja ke tempat kasir dan nanyain apa bisa gue ketemu dengan bos pengelola atau pemiliknya. Untung sang kasir yang manis itu dengan baik en ramah ngasih gue duduk terus menerima kartu nama dan stiker. Gak pake susah, kartu nama sang pemilik ada di tangan gue. Ya udah, langsung aja gue telepon nomor handphone yang ada di kartu nama hitam bertulisan tinta perak itu, Novie, the owner of Lontong Cap Go Meh Yang Tie.

Dari namanya aja, gue dah mbayangin, pasti sang pemiliknya oriental banget. Nama makanannya aja udah chinese style "Lontong Cap Go Meh", merknya pun china town pulak, "Yang Tie", (hahahaha... whatever lah! kata orang Malaysia).

Eh di telepon HP gue, ada jawaban ramah dari sang pemilik, Ibu Novie (begitu deh awalnya gue panggil dia, tadinya seh mau gue panggil Encik Novie, tapi kuatir nggak sopan), dan ternyata dia sebetulnya lagi ada acara. Menurut karyawannya, sang bos sedang reuni sekolah. Nggak jelas awalnya sekolah apa, gue duga mungkin reunian kampus kali. Gak lama gue ditawari minum sama pelayan cowok, kebetulan Om... haus banget neh, dari tadi kebanyakan ngomong and promosi kelanakuliner.com.

Rumah Makan Lontong Cap Go Meh Yang Tie, kayaknya memang pas untuk jadi meeting point strategis di bilangan Jatiasih depan Giant. Bukan hanya itu, malah kalau kita mau rendezvous bisa jadi inilah tempat yang paling strategis, sambil menunggu bisa menikmati makanan yang relatif nggak mahal-mahal amat. Buat contoh aja, satu porsi Lontong Cap Go Meh, kita hanya perlu merogoh kocek Rp. 10.000,- Pas banget dong buat kita. Begitu tiba waktunya orang yang kita tunggu datang dengan mobilnya, bisa langsung berangkat via tol Jatiasih ke segala jurusan. Apa gue bilang tadi? Sip kan buat rendezvous (kencan rahasia), hehehehe...!

Ada hal yang bikin gue penasaran dari awal, yakni makanan Lontong Cap Go Meh yang sangat kental orientalnya ini. Tapi ternyata rasa penasaran gue nggak terlalu lama, baru aja minuman terakhir gue habis dan gue pamitan pergi sambil sesekali ngambil foto pake kamera gue, eh berdatangan beberapa mobil dan sebuah sedan mewah antik. Gue perhatiin ada mobil Mercedes Tiger tahun 90-an (antik gak?) yang masih mulus berhenti dan nangkring tepat di depan RM ini. Sambil sesekali gue nambah koleksi foto HP, dari dalam resto terdengar suara perempuan meneriakkan nama gue, "Pak Rizal, pak Rizal!"

Alhamdulillah, ternyata sang pemilik RM Lontong Cap Go Meh Yang Tie, Novie. Dan gue kaget (ah gue belagak kaget deng, kan waktu gue nelpon gue ngucapin salamlekum tadi) ternyata adalah seorang wanita muda cantik berjilbab. Kok kayaknya gue kenal, tapi entah dimana. Gue pun nyalamin dia, "Bu Novie?" diapun mengangguk, dan di sampingnya menyusul lelaki sebaya gue... Lagi-lagi wajahnya kok familiar banget... Di akhir nanti gue tahu semuanya. Kami pun segera akrab, gue nyebut namanya mbak Novie, tahu deh dia nyebut gue apa setelah itu.

Setelah basa-basi sebentar, sambil gue bilang bahwa karyawannya bilang Novie sedang reuni, dan diapun menceritakan bahwa dia baru saja reuni temen SMPnya yang di Halim. Wah anak kolong neh, tanpa mikir lama lagi, gue sebut semua temen-temen gue yang anak kolong di daerah Cawang dan Halim Perdanakusumah. Dan hop... setelah nyebut nama ibu Harty Muntako dan Daniel Dharmayuman, eh bener kan... ternyata wanita yang masih tampak seperti remaja ini menunjuk suaminya dan menggoyang-goyang wajah suaminya... "Eh pak Rizal (atau mas Dik yah?), coba perhatiin, suami saya wajahnya mirip siapa...?" Gue mikir dengan keras...(sekeras tengkorak gue) Siapa yah? Kok kayaknya mirip....

"Ya iya lah, mirip sama Daniel Dharmayuman, mas Ben ini kakaknya Daniel." sergah Novie ke gue. Ya Allah bener kan ternyata dunia ini sempit. Belum habis heran gue, Novie juga menceritakan tentang pekerjaannya yang ternyata juga kami sama-sama pernah kerja di Pasaraya. Gue pernah kerja di Pasaraya sebagi AFM (Asisten Floor Manager) di lantai 3 dan dia di lantai 1. Hmmm... gimana coba kalo begini, ternyata teman dari segala arah, ya sudah makin susah gue ngasih harga bisnis... hiks! (hahahaha bercanda Mbak!)

Lupakan itu semua. Ada hal yang lebih penting, yakni Lontong Cap Go Mehnya yang sangat berbau oriental itu. Bagaimana enggak... ternyata pemiliknya muslim berjilbab lagi. Emang Cina nggak ada yang muslim... ya ada juga lah.... PITI (Persatuan Islam Tionghoa), iya kan?

Maka Novie, wanita beranak dua yang masih tampak seperti mahasiswi ini membuka kisah nama makanan khas lebarannya orang Cina ini. Cap Go Meh sendiri terdiri dari dua kata, Cap go yang artinya lima belas dan Meh yang artinya malam. So... arti keseluruhannya adalah malam yang ke limabelas.

Lontong Cap Go Meh, memang merupakah makanan tradisional Cina yang bisa dijumpai pada pertengahan bulan pertama dari tahun baru Imlek atau Tien Cien. Makanan Lontong yang menyerupai Lontong Sayur ini memang hanya bisa dinikmati pada saat lebaran tahun baru Cina di daerah Jaw Tengah maupun Jawa Timur. Dan tidak di daerah lainnya, menurut cerita Novie.

Wanita istri dari Benarto, ysng seorang seniman grafis di sebuah production house ini, menambahkan pula, nama Yang Tie sendiri sebenarnya adalah panggilan mesra anak-anaknya kepada orang tua mereka, Eyang Putri, dengan ucapan lidah anak kecil, Yang Tie. Dari cerita ini saja penasaran gur hilang, dan gue pun tersenyum, "Ide kreatif dengan memanfaatkan asosiasi konten lokal produk..." Untuk hal ini, gue setuju, kalau ini satu strategi branding yang lihai, cerdik dan unik.

"Dan kebetulan dari radius lebih 10 km belum ada makanan khas tradisional oriental ini di Bekasi," tegas suaminya yang juga akrab dipanggil Den Ben ini. Novie pun menambahkan, "Setelah yakin keliling Bekasi nggak ada yang menjual makanan Lontong Cap Go Meh ini maka saya pun menaikkan nama ini sebagai nama sekaligus makanan utama sajian di resto kami. Di samping itu kami juga menyajikan minuman unik seperti Es Terong Belanda, kemudian juga Es Nangka Belanda, imbuh wanita yang meliburkan restonya hari Kamis ini.

Untuk nama minuman yang kedua gue agak ngerutin kening. Mungkin Terong Belanda nama minuman khas Medan gue pernah denger dan pernah ngerasain minuman yang dibuat dari sejenis buah Markisa itu. Nangka Belanda? Dengan tersenyum, Novie menjelaskan bahwa Nangka Belanda adalah nama lain dari buah Sirsak dalam bahasa Betawi. Ingat kan lagunya bang Benyamin S, yang terkenal itu, "Nangke Lande diencot-encot jande....!"

Wah baru denger nama buahnya aja gue langsung haus. Nggak pake lama, Novie pun mempersilahkan gue untuk menikmati makanan khasnya Lontong Cap Go Meh, terus ditemani minuman segar Es Lemon.

Begitu melihat lontong Cap Go Meh yang memang seperti kebanyakan lontong sayur di daerah manapun saya pun menyiapkan kamera. Ada satu hal yang nggak biasa, yaitu taburan gerusan (tepung) dari kacang kedelai di atas potongan lontong yang berwarna kehijauan bagian luarnya itu. Rupanya inilah yang membuat lontong ini berbeda dari lontong sayur kebanyakan.

Dan gue pun coba sepotong lontong bertabur serbuk kacang kedelai goreng ini dengan kuah santan opor ayam. Hmm, emang beda rasanya, terutama gurihnya cita rasa bubuk serbuk keledai yang bukan saja membuat gurih tapi sensasi unik dari lunaknya lontong. Dan bila kita ingin mengganti kuah lontong ini dengan kuah lainnya juga bisa. Ada beberapa pilihan lain seperti kuah sop iga atau kuah soto sesuai selera dan menu yang tersedia. Kayaknya seh keluar pakem masakan lontong, tapi menurut Novie, kalau itu memang permintaan pelanggan, kenapa enggak? Demi pelayanan dan kepuasan mereka.

Secara mendasar mungkin gue bisa ngasih rekomendasi penilaian 3 setengah bintang dari skala 5. Lumayan ok, tapi mungkin gue perlu nyoba juga menu sajian utama lainnya yang unik, seperti rawon bakar atau sop iga bakar (yang terakhir ini kayaknya gue sering makan di tempatnya Daeng Tata).

Tertarik mau cari tempat rendezvous atau meeting point di dekat pintu masuk pintu tol Jatiasih dengan akses ke mana saja? Pilihan RM Lontong Cap Go Meh, lokasi depan Giant Jatiasih bisa gue rekomendasikan. Atau untuk sekadar makan siang setelah jam istirahat kerja, karena gue perhatiin, lokasi ini tepat di persimpangan jalan provinsi dimana ada pusat perkantoran dan industri serta pusat perbelanjaan Giant, belum lagi lokasinya yang sangat strategis. Dan untuk akhir pekan, seperti keluarga-keluarga yang lelah sehabis berbelanja di Giant bisa mampir dan mencoba uniknya makanan ringan dan segala waktu ini.

Mau reservasi tempat?
RM Lontong Cap Go Meh Yang Tie
(depan Giant Jatiasih) Jln. Komsen Jatiasih, Bekasi
Kontak: (021) 7129.4747 atau (021)3277.8105
HP. 081130347

Lontong Cap Go Meh: Depan Giant Jatiasih Bekasi

Nostalgia Makanan Khas Jawa Nuansa Oriental


Bekasi, kelanakuliner.com
Dunia ternyata memang sempit, begitu rasanya kalau kita berjalan sudah keliling kemana-mana namun akhirnya kita bertemu dengan orang-orang yang ternyata kita kenal juga dengan salah satu keluarga orang yang pernah dekat dengan kita, sekalipun ada yang berpendapat, "Dunia Tak Selebar Daun Kelor".

Tak lama setelah gue berkunjung dari tempat Pendekar Gurame, Komsen Resto Akuarium dan Warung Kuliner, gue ngegeber motor butut tua gue pulang lewat pertigaan tol Jatiasih. Sebelumnya juga udah buat janji ketemu dengan satu kolega, pengusaha Sate Ponorogo yang lokasi rumah makannya ada tepat di depan Giant Jatiasih. Kebetulan dia gak ada di tempat, tapi gue diizinin ngambil foto keadaan rumah makannya. Buat gue gak ada masalah, hitung-hitung nabung pekerjaan dan biar gak repot di besok hari.

Tapi siapa sangka saat lihat di sampingnya ada tempat makan dengan tulisan putih berlatar banner hitam "Lontong Cap Go Meh" bikin gue jadi penasaran. Mang seh... selama keliling Kota Bekasi dan Kabupaten belum ada tuh yang namanya Lontong Cap Go Meh, tapi kayaknya di Cikarang ada, tapi lupa syairnya tuh, cuma ingat kuncinya! Eh sorry maksud gue lupa tempatnya.

Iseng-iseng nyobain mampir dan seperti biasa dengan modal kartu nama dan stiker dobeldobel.com, gue masuk kali aja mudah-mudahan ketemu sama sang pemilik, biar bisa langsung wawancara, maklum lah mumpung hari Minggu. Mulanya hanya ada satu pengunjung yang duduk di dekat pintu masuk, karena cuma satu (gue nggak takut, kalo seribu gue ngeri) yang ada, ya udah gue langsung aja ke tempat kasir dan nanyain apa bisa gue ketemu dengan bos pengelola atau pemiliknya. Untung sang kasir yang manis itu dengan baik en ramah ngasih gue duduk terus menerima kartu nama dan stiker. Gak pake susah, kartu nama sang pemilik ada di tangan gue. Ya udah, langsung aja gue telepon nomor handphone yang ada di kartu nama hitam bertulisan tinta perak itu, Novie, the owner of Lontong Cap Go Meh Yang Tie.

Dari namanya aja, gue dah mbayangin, pasti sang pemiliknya oriental banget. Nama makanannya aja udah chinese style "Lontong Cap Go Meh", merknya pun china town pulak, "Yang Tie", (hahahaha... whatever lah! kata orang Malaysia).

Eh di telepon HP gue, ada jawaban ramah dari sang pemilik, Ibu Novie (begitu deh awalnya gue panggil dia, tadinya seh mau gue panggil Encik Novie, tapi kuatir nggak sopan), dan ternyata dia sebetulnya lagi ada acara. Menurut karyawannya, sang bos sedang reuni sekolah. Nggak jelas awalnya sekolah apa, gue duga mungkin reunian kampus kali. Gak lama gue ditawari minum sama pelayan cowok, kebetulan Om... haus banget neh, dari tadi kebanyakan ngomong and promosi kelanakuliner.com.

Rumah Makan Lontong Cap Go Meh Yang Tie, kayaknya memang pas untuk jadi meeting point strategis di bilangan Jatiasih depan Giant. Bukan hanya itu, malah kalau kita mau rendezvous bisa jadi inilah tempat yang paling strategis, sambil menunggu bisa menikmati makanan yang relatif nggak mahal-mahal amat. Buat contoh aja, satu porsi Lontong Cap Go Meh, kita hanya perlu merogoh kocek Rp. 10.000,- Pas banget dong buat kita. Begitu tiba waktunya orang yang kita tunggu datang dengan mobilnya, bisa langsung berangkat via tol Jatiasih ke segala jurusan. Apa gue bilang tadi? Sip kan buat rendezvous (kencan rahasia), hehehehe...!

Ada hal yang bikin gue penasaran dari awal, yakni makanan Lontong Cap Go Meh yang sangat kental orientalnya ini. Tapi ternyata rasa penasaran gue nggak terlalu lama, baru aja minuman terakhir gue habis dan gue pamitan pergi sambil sesekali ngambil foto pake kamera gue, eh berdatangan beberapa mobil dan sebuah sedan mewah antik. Gue perhatiin ada mobil Mercedes Tiger tahun 90-an (antik gak?) yang masih mulus berhenti dan nangkring tepat di depan RM ini. Sambil sesekali gue nambah koleksi foto HP, dari dalam resto terdengar suara perempuan meneriakkan nama gue, "Pak Rizal, pak Rizal!"

Alhamdulillah, ternyata sang pemilik RM Lontong Cap Go Meh Yang Tie, Novie. Dan gue kaget (ah gue belagak kaget deng, kan waktu gue nelpon gue ngucapin salamlekum tadi) ternyata adalah seorang wanita muda cantik berjilbab. Kok kayaknya gue kenal, tapi entah dimana. Gue pun nyalamin dia, "Bu Novie?" diapun mengangguk, dan di sampingnya menyusul lelaki sebaya gue... Lagi-lagi wajahnya kok familiar banget... Di akhir nanti gue tahu semuanya. Kami pun segera akrab, gue nyebut namanya mbak Novie, tahu deh dia nyebut gue apa setelah itu.

Setelah basa-basi sebentar, sambil gue bilang bahwa karyawannya bilang Novie sedang reuni, dan diapun menceritakan bahwa dia baru saja reuni temen SMPnya yang di Halim. Wah anak kolong neh, tanpa mikir lama lagi, gue sebut semua temen-temen gue yang anak kolong di daerah Cawang dan Halim Perdanakusumah. Dan hop... setelah nyebut nama ibu Harty Muntako dan Daniel Dharmayuman, eh bener kan... ternyata wanita yang masih tampak seperti remaja ini menunjuk suaminya dan menggoyang-goyang wajah suaminya... "Eh pak Rizal (atau mas Dik yah?), coba perhatiin, suami saya wajahnya mirip siapa...?" Gue mikir dengan keras...(sekeras tengkorak gue) Siapa yah? Kok kayaknya mirip....

"Ya iya lah, mirip sama Daniel Dharmayuman, mas Ben ini kakaknya Daniel." sergah Novie ke gue. Ya Allah bener kan ternyata dunia ini sempit. Belum habis heran gue, Novie juga menceritakan tentang pekerjaannya yang ternyata juga kami sama-sama pernah kerja di Pasaraya. Gue pernah kerja di Pasaraya sebagi AFM (Asisten Floor Manager) di lantai 3 dan dia di lantai 1. Hmmm... gimana coba kalo begini, ternyata teman dari segala arah, ya sudah makin susah gue ngasih harga bisnis... hiks! (hahahaha bercanda Mbak!)

Lupakan itu semua. Ada hal yang lebih penting, yakni Lontong Cap Go Mehnya yang sangat berbau oriental itu. Bagaimana enggak... ternyata pemiliknya muslim berjilbab lagi. Emang Cina nggak ada yang muslim... ya ada juga lah.... PITI (Persatuan Islam Tionghoa), iya kan?

Maka Novie, wanita beranak dua yang masih tampak seperti mahasiswi ini membuka kisah nama makanan khas lebarannya orang Cina ini. Cap Go Meh sendiri terdiri dari dua kata, Cap go yang artinya lima belas dan Meh yang artinya malam. So... arti keseluruhannya adalah malam yang ke limabelas.

Lontong Cap Go Meh, memang merupakah makanan tradisional Cina yang bisa dijumpai pada pertengahan bulan pertama dari tahun baru Imlek atau Tien Cien. Makanan Lontong yang menyerupai Lontong Sayur ini memang hanya bisa dinikmati pada saat lebaran tahun baru Cina di daerah Jaw Tengah maupun Jawa Timur. Dan tidak di daerah lainnya, menurut cerita Novie.

Wanita istri dari Benarto, ysng seorang seniman grafis di sebuah production house ini, menambahkan pula, nama Yang Tie sendiri sebenarnya adalah panggilan mesra anak-anaknya kepada orang tua mereka, Eyang Putri, dengan ucapan lidah anak kecil, Yang Tie. Dari cerita ini saja penasaran gur hilang, dan gue pun tersenyum, "Ide kreatif dengan memanfaatkan asosiasi konten lokal produk..." Untuk hal ini, gue setuju, kalau ini satu strategi branding yang lihai, cerdik dan unik.

"Dan kebetulan dari radius lebih 10 km belum ada makanan khas tradisional oriental ini di Bekasi," tegas suaminya yang juga akrab dipanggil Den Ben ini. Novie pun menambahkan, "Setelah yakin keliling Bekasi nggak ada yang menjual makanan Lontong Cap Go Meh ini maka saya pun menaikkan nama ini sebagai nama sekaligus makanan utama sajian di resto kami. Di samping itu kami juga menyajikan minuman unik seperti Es Terong Belanda, kemudian juga Es Nangka Belanda, imbuh wanita yang meliburkan restonya hari Kamis ini.

Untuk nama minuman yang kedua gue agak ngerutin kening. Mungkin Terong Belanda nama minuman khas Medan gue pernah denger dan pernah ngerasain minuman yang dibuat dari sejenis buah Markisa itu. Nangka Belanda? Dengan tersenyum, Novie menjelaskan bahwa Nangka Belanda adalah nama lain dari buah Sirsak dalam bahasa Betawi. Ingat kan lagunya bang Benyamin S, yang terkenal itu, "Nangke Lande diencot-encot jande....!"

Wah baru denger nama buahnya aja gue langsung haus. Nggak pake lama, Novie pun mempersilahkan gue untuk menikmati makanan khasnya Lontong Cap Go Meh, terus ditemani minuman segar Es Lemon.

Begitu melihat lontong Cap Go Meh yang memang seperti kebanyakan lontong sayur di daerah manapun saya pun menyiapkan kamera. Ada satu hal yang nggak biasa, yaitu taburan gerusan (tepung) dari kacang kedelai di atas potongan lontong yang berwarna kehijauan bagian luarnya itu. Rupanya inilah yang membuat lontong ini berbeda dari lontong sayur kebanyakan.

Dan gue pun coba sepotong lontong bertabur serbuk kacang kedelai goreng ini dengan kuah santan opor ayam. Hmm, emang beda rasanya, terutama gurihnya cita rasa bubuk serbuk keledai yang bukan saja membuat gurih tapi sensasi unik dari lunaknya lontong. Dan bila kita ingin mengganti kuah lontong ini dengan kuah lainnya juga bisa. Ada beberapa pilihan lain seperti kuah sop iga atau kuah soto sesuai selera dan menu yang tersedia. Kayaknya seh keluar pakem masakan lontong, tapi menurut Novie, kalau itu memang permintaan pelanggan, kenapa enggak? Demi pelayanan dan kepuasan mereka.

Secara mendasar mungkin gue bisa ngasih rekomendasi penilaian 3 setengah bintang dari skala 5. Lumayan ok, tapi mungkin gue perlu nyoba juga menu sajian utama lainnya yang unik, seperti rawon bakar atau sop iga bakar (yang terakhir ini kayaknya gue sering makan di tempatnya Daeng Tata).

Tertarik mau cari tempat rendezvous atau meeting point di dekat pintu masuk pintu tol Jatiasih dengan akses ke mana saja? Pilihan RM Lontong Cap Go Meh, lokasi depan Giant Jatiasih bisa gue rekomendasikan. Atau untuk sekadar makan siang setelah jam istirahat kerja, karena gue perhatiin, lokasi ini tepat di persimpangan jalan provinsi dimana ada pusat perkantoran dan industri serta pusat perbelanjaan Giant, belum lagi lokasinya yang sangat strategis. Dan untuk akhir pekan, seperti keluarga-keluarga yang lelah sehabis berbelanja di Giant bisa mampir dan mencoba uniknya makanan ringan dan segala waktu ini.

Mau reservasi tempat?
RM Lontong Cap Go Meh Yang Tie
(depan Giant Jatiasih) Jln. Komsen Jatiasih, Bekasi
Kontak: (021) 7129.4747 atau (021)3277.8105
HP. 081130347

Selasa, Juli 14, 2009

Lontong Kikil Warung Kaki Lima Jawa Timur, depan Univ. Gunadarma Kalimalang

Menunya Diserbu Arek Jawa Timuran di Bekasi
PELEPAS RINDU BAGI PARA HOMESICKERS JAWATIMURAN


Bekasi, kelanakuliner.com
Kupat Tahu, Tahu Tektek, Tahu Gunting dan Lontong Balap adalah beberapa menu unggulan warung kaki lima yang hanya buka malam hari ini. Menu unggulan ini pulalah yang diserbu oleh warga pendatang dari Jawa Timur saat mereka rindu dengan masakan khas daerah mereka. Itulah sebabnya warung ini setiap malam selalu ramai diserbu oleh pelanggan yang memang kebanyakan adalah orang Jawa Timur. Kelanakuliner.com sendiri menanyai beberapa pelanggan dan ternyata delapan dari sepuluh orang yang ditanyai adalah arek (warga pendatang dari Jawa Timur).

Menurut pengakuan sang pemilik Lontong Kikil, Kupat Tahu Surabaya di bilangan Kalimalang ini, mas Anto yang dulu pernah berprofesi menjadi sopir truk dan angkutan bus antar provinsi ini ternyata peminat dan pengunjung warung makan mereka semakin banyak dari hari ke hari.

Di samping dia bisa selalu dekat dengan keluarganya, dimana sang istri yang asli arek Suroboyo yang memasak bumbu-bumbunya, dan saat liburan anak-anaknya bisa berlibur di warung dan rumahnya yang berlokasi tak jauh dari warung mereka. Anak-anaknya bersekolah di Jawa Timur ikut dengan nenek mereka, dan ketika liburan mereka pergi bertemu dengan orang tua di Bekasi dan menikmati suasana kerja sang ayah dan ibunya. Waduh, kalau begini caranya apalagi yang kurang... Nikmat banget hidup bekerja bersama keluarga... ya nggak friends?

Masalah harganya pun relatif murah cuma Rp. 8.000,- plus Es Teh Manis atau Es Jeruk Rp. 3.000,- so hanya Rp 11.000,- murah kan? Lokasinya yang di depan Kampus Gunadarma Kalimalang ini memang hanya buka ba\da Maghrib, tapi hampir tiap malam nggak ada sepinya tuh? Jadi buat mereka yang asli arek, bisa ketemuan dengan komunitas asal jawa timuran di sini.

Untuk menu yng disajikan lumayan bervariasi, mulai dari Tahu Campur, Kupat Tahu, Tahu Tektek atau Tahu Gunting, dan lainnya. Tapi hanya untuk makanan malam yah... kalau makanan seperti Lontong Balap jelas nggak ada, kan itu masuk makanan pagi (ini menurut versinya mas Anto... hehehe kalau mau rinciannya, hubungi aja sang pemilik setiap malam dia buka kok!)

Sidik Rizal - dobeldobel.com
------------------------------------------------------------------------------
Tulisan terkait dan menu rahasia masakan makanan malam Surabaya

Lontong Kikil Surabaya oleh Cicip Sana Cicip Sini

Lontong kikil ini awal berdirinya cuma warung biasa aja di tepi jalan Jemur Andayani, Surabaya. Sekarang membuka cabang, masih di daerah Jemur juga, tempatnya kira-kira cuma 100m dari warung pertama. Bedanya cabangnya lebih gedhe dan bangunan permanen alias Depot. Depot ini namanya Sumber Jaya, ada disebelah kiri jalan jika kendaraan menuju ke Jl. Ahmad Yani. Alamat lengkap depot ini di Jl. Jemur Andayani No. 40, Surabaya; Telp. 8473420, 71553375.

Ngincip mengajak Supre sebagai relawan, kami mencoba dua menu yang berbeda, Tahu Campur dan Lontong Kikil.

Tahu campur isinya standar, ada ketela yg ditumbuk, daging, selada, mie, krupuk, daging koyor. Nah, bedanya kalau tahu campur disini dikasih kikil dua biji sebesar pentol, plus tulang muda, entah itu telinga atau bagian mana gak ngerti, yang pasti empuk. Kuahnya sedep, rasa petisnya juga pas di lidah, agak manis dan engga amis.

Lontong kikil kuahnya sedep, ada aroma kikil tapi lembut, engga menyengat. Kuahnya sendiri ditaburi dengan daun bawang, rasanya agak pedes dan kental. Kikil juga kenyal empuk, pas banget. Konon makanan kikil ini mengandung banyak glukotamin, bagus ini buat kesehatan. Semua dihidangkan dengan sepiring lontong dan seiris jeruk purut buat campuran kuahnya.

Total untuk 1 Lontong Kikil, 1 Tahu Campur, 2 eh teh manis bisa ditebas seharga 19.500,-.

Untuk kikil ngincip memberi nilai 4 dari 5; Tahu campur 3,5 dari 5. Sip.. ;)

Lontong Kikil Surabaya ala Sri Wahyuti

Bahan
3 sdm minyak untuk menumis
500 g kikil, rendam dalam air kapur sirih selama 2 jam, cuci bersih, tiriskan
3 L kaldu sapi
2 batang serai, ambil bagian
putihnya, memarkan
5 lembar daun jeruk
1 sdt kaldu bubuk rasa sapi
2 batang daun bawang, iris tipis

Bumbu dihaluskan
10 butir bawang merah
8 siung bawang putih
2 cm kunyit

Sambal Kemiri, aduk rata
3 butir kemiri, goreng, haluskan
3 buah cabai merah, rebus, haluskan
5 buah cabai rawit, haluskan
50 ml air

Pelengkap
6 buah lontong, siap saji, potong-potong
6 sdm air jeruk nipis
3 sdm bawang goreng

Cara membuat
• Tumis bumbu halus hingga harum, angkat. Sisihkan.
• Rebus kikil bersama air, serai, daun jeruk, dan bumbu tumis, hingga kikil empuk dan kuah menyusut setengahnya, potong-potong kikil ukuran 1,5 x 1,5 cm. Campur kembali dengan air rebusan.
• Bubuhi kaldu bubuk dan irisan daun bawang, aduk-aduk. Angkat.
• Sajikan hangat bersama pelengkap dan sambal kemiri.

Lontong Kikil Warung Kaki Lima Jawa Timur, depan Univ. Gunadarma Kalimalang

Menunya Diserbu Arek Jawa Timuran di Bekasi
PELEPAS RINDU BAGI PARA HOMESICKERS JAWATIMURAN


Bekasi, kelanakuliner.com
Kupat Tahu, Tahu Tektek, Tahu Gunting dan Lontong Balap adalah beberapa menu unggulan warung kaki lima yang hanya buka malam hari ini. Menu unggulan ini pulalah yang diserbu oleh warga pendatang dari Jawa Timur saat mereka rindu dengan masakan khas daerah mereka. Itulah sebabnya warung ini setiap malam selalu ramai diserbu oleh pelanggan yang memang kebanyakan adalah orang Jawa Timur. Kelanakuliner.com sendiri menanyai beberapa pelanggan dan ternyata delapan dari sepuluh orang yang ditanyai adalah arek (warga pendatang dari Jawa Timur).

Menurut pengakuan sang pemilik Lontong Kikil, Kupat Tahu Surabaya di bilangan Kalimalang ini, mas Anto yang dulu pernah berprofesi menjadi sopir truk dan angkutan bus antar provinsi ini ternyata peminat dan pengunjung warung makan mereka semakin banyak dari hari ke hari.

Di samping dia bisa selalu dekat dengan keluarganya, dimana sang istri yang asli arek Suroboyo yang memasak bumbu-bumbunya, dan saat liburan anak-anaknya bisa berlibur di warung dan rumahnya yang berlokasi tak jauh dari warung mereka. Anak-anaknya bersekolah di Jawa Timur ikut dengan nenek mereka, dan ketika liburan mereka pergi bertemu dengan orang tua di Bekasi dan menikmati suasana kerja sang ayah dan ibunya. Waduh, kalau begini caranya apalagi yang kurang... Nikmat banget hidup bekerja bersama keluarga... ya nggak friends?

Masalah harganya pun relatif murah cuma Rp. 8.000,- plus Es Teh Manis atau Es Jeruk Rp. 3.000,- so hanya Rp 11.000,- murah kan? Lokasinya yang di depan Kampus Gunadarma Kalimalang ini memang hanya buka ba\da Maghrib, tapi hampir tiap malam nggak ada sepinya tuh? Jadi buat mereka yang asli arek, bisa ketemuan dengan komunitas asal jawa timuran di sini.

Untuk menu yng disajikan lumayan bervariasi, mulai dari Tahu Campur, Kupat Tahu, Tahu Tektek atau Tahu Gunting, dan lainnya. Tapi hanya untuk makanan malam yah... kalau makanan seperti Lontong Balap jelas nggak ada, kan itu masuk makanan pagi (ini menurut versinya mas Anto... hehehe kalau mau rinciannya, hubungi aja sang pemilik setiap malam dia buka kok!)

Sidik Rizal - dobeldobel.com
------------------------------------------------------------------------------
Tulisan terkait dan menu rahasia masakan makanan malam Surabaya

Lontong Kikil Surabaya oleh Cicip Sana Cicip Sini

Lontong kikil ini awal berdirinya cuma warung biasa aja di tepi jalan Jemur Andayani, Surabaya. Sekarang membuka cabang, masih di daerah Jemur juga, tempatnya kira-kira cuma 100m dari warung pertama. Bedanya cabangnya lebih gedhe dan bangunan permanen alias Depot. Depot ini namanya Sumber Jaya, ada disebelah kiri jalan jika kendaraan menuju ke Jl. Ahmad Yani. Alamat lengkap depot ini di Jl. Jemur Andayani No. 40, Surabaya; Telp. 8473420, 71553375.

Ngincip mengajak Supre sebagai relawan, kami mencoba dua menu yang berbeda, Tahu Campur dan Lontong Kikil.

Tahu campur isinya standar, ada ketela yg ditumbuk, daging, selada, mie, krupuk, daging koyor. Nah, bedanya kalau tahu campur disini dikasih kikil dua biji sebesar pentol, plus tulang muda, entah itu telinga atau bagian mana gak ngerti, yang pasti empuk. Kuahnya sedep, rasa petisnya juga pas di lidah, agak manis dan engga amis.

Lontong kikil kuahnya sedep, ada aroma kikil tapi lembut, engga menyengat. Kuahnya sendiri ditaburi dengan daun bawang, rasanya agak pedes dan kental. Kikil juga kenyal empuk, pas banget. Konon makanan kikil ini mengandung banyak glukotamin, bagus ini buat kesehatan. Semua dihidangkan dengan sepiring lontong dan seiris jeruk purut buat campuran kuahnya.

Total untuk 1 Lontong Kikil, 1 Tahu Campur, 2 eh teh manis bisa ditebas seharga 19.500,-.

Untuk kikil ngincip memberi nilai 4 dari 5; Tahu campur 3,5 dari 5. Sip.. ;)

Lontong Kikil Surabaya ala Sri Wahyuti

Bahan
3 sdm minyak untuk menumis
500 g kikil, rendam dalam air kapur sirih selama 2 jam, cuci bersih, tiriskan
3 L kaldu sapi
2 batang serai, ambil bagian
putihnya, memarkan
5 lembar daun jeruk
1 sdt kaldu bubuk rasa sapi
2 batang daun bawang, iris tipis

Bumbu dihaluskan
10 butir bawang merah
8 siung bawang putih
2 cm kunyit

Sambal Kemiri, aduk rata
3 butir kemiri, goreng, haluskan
3 buah cabai merah, rebus, haluskan
5 buah cabai rawit, haluskan
50 ml air

Pelengkap
6 buah lontong, siap saji, potong-potong
6 sdm air jeruk nipis
3 sdm bawang goreng

Cara membuat
• Tumis bumbu halus hingga harum, angkat. Sisihkan.
• Rebus kikil bersama air, serai, daun jeruk, dan bumbu tumis, hingga kikil empuk dan kuah menyusut setengahnya, potong-potong kikil ukuran 1,5 x 1,5 cm. Campur kembali dengan air rebusan.
• Bubuhi kaldu bubuk dan irisan daun bawang, aduk-aduk. Angkat.
• Sajikan hangat bersama pelengkap dan sambal kemiri.

DELIVERY SERVICE : (021)30565629 - HOTLINE: (021)606.36235 - 081385.386.583


Waroeng d'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]
Waroeng D'har

Waroeng d'har masakan khas Medan Deli

Mungkin hanya di tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan makanan khas masakan Medan Deli, makanan melayu yang akrab buat kebanyakan orang Indonesia [...]